Polda Jatim Bongkar Perdagangan Daging Impor Ilegal di Malang



SURABAYA, suryaindonesianews.com
Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur bersama Dinas Peternakan Provinsi Jatim, membongkar Perdagangan Daging Sapi dan Kerbau tak Berizin yang tidak memenuhi Sanitasi Pangan. Kasus ini merupakan hasil penyidikan Tim Satgas Pangan bersama dengan Dinas Peternakan Provinsi Jatim

"Polisi menetapkan tersangka adalah Pemilik UD SMN Pendistribusian Daging Impor, berinisial SWR, di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Diketahui SWR telah melakukan kegiatannya sejak tahun 2014,"kata AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH di Mako Polda Jatim, hari Kamis (04/07/2019),

Wadir Reskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH mengatakan, Kasus tersebut mulai diselidiki Polisi pada hari Selasa, 18 Juni 2019, berdasarkan laporan masyarakat. Lalu pada hari Selasa, 2 Juli 2019, Polisi melakukan Penindakan dan ditangkaplah SWR.

AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH juga menjelaskan bahwa Tersangka SWR diduga sebagai pelaku Kasus Tindak Pidana Pangan dengan cara melakukan usaha penyimpangan distribusi Daging Sapi dan Daging Kerbau Impor, serta Daging Lokal yang tidak memenuhi Sanitasi Pangan.

Daging ini berasal dari Australia, lalu kita lakukan penindakan bersama Dinas Peternakan. Polisi menemukan sejumlah Ribuan Daging Sapi dan Kerbau Impor dari Australia. Lalu ada pula Kikil dan Tiga Kepala Sapi Lokal.

Dari pengungkapan tersebut Polisi juga menyita sejumlah Barang Bukti yaitu sebanyak 5.549 Kilogram Daging Sapi Impor, 740 Kilogram Daging Kerbau Impor, 1.000 Kilogram Kikil Sapi, dan Tiga Kepala Sapi Lokal,"ujar AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH.

Wadir Reskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH menambahkan, melalui aksinya yang dilakukan sejak tahun 2014 hingga 2019, tersangka SWR mendapatkan omzet sebesar Rp. 150 Juta per Bulan. Dari situ, setiap bulannya ia mendapat keuntungan Rp. 50 Juta, maka dalam setahun ia bisa meraup Rp. 5 Miliar.

"Pelaku ini sudah menjalankan usahanya yang tak memenuhi rekom dari Dinas Peternakan selama 5 tahun. Ini dijual ke masyarakat di Jatim, masuk pasar lokal,"kata AKBP Arman Asmara Syarifuddin, SH, SIK, MH.

Sementara Kabid Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan Provinsi Jatim drh. Juliani Poliswari, MM mengatakan bahwa Tersangka SWR telah memperdagangkan dagingnya dengan cara yang tak memenuhi Syarat dan Rekomendasi, yakni tidak memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV).

"Jadi ini tidak memenuhi Syarat. Karena Unit Usaha Produk Hewan ada yang bernomor Kontrol Veteriner itu bisa ada di 'Cord Storage'nys, dipengolahannya. Kalau disini Kami mengaudit di Cold Storagenya,"kata drh. Juliani Poliswari, MM.

Semua produk Daging Impor, kata drh. Juliani Poliswari, MM harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Peternakan, Bidang Kesehatan masyarakat veteriner. drh. Juliani Poliswari, MM menegaskan, NKV mestinya wajib disematkan kepada Produk Makanan, khususnya Impor.

"Semua jenis unit usaha dan produk asal hewan itu harus memiliki nomor kontrol venteriner. Intinya, untuk Penjaminan Keamanan pangan. Jadi dasar untuk hygiene dan sanitasi,"kata drh. Juliani Poliswari, MM.

Atas perbuatan Tersangka SWR dijerat dengan Pasal 135 Juncto Pasal 71 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Namun, tersangka tidak dilakukan Penahanan. Polisi menyebut, Ancaman Hukuman Pasal tersebut di bawah Lima Tahun Penjara, yakni maksimal Dua Tahun Penjara dan/atau dengan Denda sebesar Rp 4 Miliar. (Sam)
Share on Google Plus

About Surya indonesia

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar