Polda Jatim Bongkar Penjualan Satwa Dilindungi, Dan Mengamankan Delapan Orang Tersangka




SURABAYA suryaindonesianews.com
Delapan orang tersangka berinisial MRSL (24 th) Warga Surabaya, AN (32 th) Warga Surabaya, VS (32 th) Warga Surabaya, AW (35 th) warga Semarang, RR (32 th) Warga Surabaya, MR (30 th) Warga Jember, BPH (22 th) Warga Bodowoso dan DD (26 th) Warga Bondowoso dan dan 1 (Satu) Orang DPO sebagai Otak Jaringan, mereka diamankan Jajaran Unit I Subdit IV/ Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim. Pasalnya,
mereka merupakan tersangka Jaringan Internasional. Serta Sindikat Perdagangan puluhan satwa dilindungi seperti Komodo (Varanus Komodoensi) ke Luar Negeri. Di mana, modus penjualan dilakukan secara Daring melalui Media Sosial.


"Kami melakukan penindakan di dua tempat di Jatim khususnya di kota Surabaya. Hewan-hewan dilindungi ini akan dikirim ke luar negeri, termasuk ditemukan lima Komodo,"kata Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH.


Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH menyampaikan hasil Pengungkapan itu Pihaknya mendapat Informasi dari masyarakat tentang adanya Jual Beli satwa yang dilindungi, pada hari Jumat, 22 Februari 2019. Langsung Petugas Unit I Subdit IV/Tipidter melakukan Pemeriksaan dan Pengecekan.


Lebih lanjut, Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH mengatakan Penjualan Satwa tersebut dilakukan tersangka melalui Media Sosial, melalui sebuah Akun Facebook dengan nama Mild Bold Call, Baong Pets dan Vitty Sayangmamaselamanya.


Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH menjelaskan bahwa "Subdit IV/Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim dipimpin oleh AKBP Rofiq Ripto Himawan, SIK, SH, MH telah melakukan Penindakan di Wilayah Hukum di Jawa Timur, yakni di Kota Surabaya, Kabupaten Jember serta Kabupaten Bondowoso. Hasil Penindakan itu di temukan berbagai Jenis Satwa Liar, baik dalam Kondisi Hidup maupun Mati, terutama Komodo,"ujar Dirreskrimsus Polda Jatim, hari Rabu (27/03/2019).

Kita masih menunggu hasil Forensik, saat ini diduga lebih 41 Komodo yang sudah dijual ke Luar Negeri oleh Jaringan Internasional ini dengan harga Jual mulai Rp. 20 Juta satu ekor untuk Pembeli Dalam Negeri, sedangkan harga Rp 500 Juta satu ekor untuk Pembeli Luar Negeri.
Para tersangka juga mengambil hewan tersebut seolah-olah hewan hasil budidaya.

Selain itu, banyak binatang yang masih kecil, baru dilahirkan. "Tersangka mengambilnya dengan cara membunuh induknya dan salah satu bukti pecahan proyektil pecahan proyektil yang kami temukan dan Kita kembangkan untuk mencari Senpi (Senjata Api) atau Alatnya yang digunakan,"ujar Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH.

Kombes Pol Akhmad Yosef Gunawan, SH, SIK, MH menambahkan Jaringan ini sudah beroperasi Tujuh kali,  sejak tahun 2016 sampai 2019. Pihaknya pun masih memburu satu orang lagi. Selain lima Komodo, Polda Jatim mengamankan Kakatua Jambul Kuning, Kakatua Maluku, Satu Ekor Kasuari, Sepuluh Ekor Berang-berang, Lima Ekor Kucing Kuwuk (Prionailurus Bengalensisatau Leopard Cat), Tujuh Ekor Lutung Budeng (Trachypithecus Auratus), Enam Ekor Trenggiling, Satu Ekor Cukbo Ekor Merah dan Satu Ekor Elang Bido.

Sementara itu, Kabid wilayah 2 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Widodo mengatakan, satwa-satwa ini dikirim ke Luar Negeri bukan hanya untuk koleksi. Bahkan akan lebih merugikan jika satwa endemik tersebut dimanfaatkan genetiknya sebagai obat-obatan.

"Apabila genetiknya digunakan sebagai industri di luar negeri, maka akan berlipat ganda. Seperti Ludah Komodo dan Trenggiling memiliki Nilai Ekonimis yang tinggi,"ungkap Widodo.

Meski dari pengakuan pelaku yang mengatakan bahwa hewan-hewan ini merupakan hasil budidaya yang mereka lakukan sendiri. Namun, Widodo menegaskan mereka tidak mampu menunjukkan surat izin penangkaran hewan.

"Kalau misal Pelaku memang memelihara apalagi membudidayakan, pasti ada surat izin penangkarannya,"jelas Widodo.

Saat ini, satwa-satwa tersebut masih ditangkarkan di karantina BBKSDA Jatim sebelum dilepas liarkan di Habitatnya masing-masing.

Akibat perbuatan yang mengancam ekosistem satwa terlindungi di Indonesia tersebut, para tersangka dijerat Undang-Undang nomor 5 tahun 1980 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Pasal 40 ayat (2), Pasal 21 ayat (2) huruf a, b, dan d. Ancaman Hukumannya adalah Pidana 5 tahun Penjara dan Denda Rp100 Juta. (Sam)
Share on Google Plus

About Surya indonesia

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar